Pelajaran Tentang Kebahagiaan dari Sejarah Stanford

Minggu kemarin, saya bicara tentang facebook dan sedikit menyidir professor-professor yang cukup membuat saya kagum. Nah, sekarang kita akan sedikit istirahat dan merenung. Kali ini kita akan membicarakan stanford. Ok, saya memang suka universitas ini sampai-sampai bikin cerpen sendiri tentang stanford. Tapi sebenarnya ini bukan hanya tentang stanford. Ini tentang menjadi bahagia. Finding happiness.
Sebelum dimulai, saya ingin jujur bahwa..
Saya suka commencement speech yang hebat, yang dibawakan oleh orang-orang hebat. Saya suka melihat wisuda, saat gerbang ke dunia nyata akan dibuka dan bagaimana melihat banyak mahasiswa bergembira, dan berjingkrak riang bersama-sama. Ini yang saya rasakan ketika saya menonton commencement speech steve jobs di Stanford pada tahun 2005. Saya pertamakali menonton videonya setahun yang lalu. Dan saya sangat terinspirasi dengan apa yang dibicarakannnya. Ini membuat saya jelas, bagaimana sukses-sukses besar yang pernah dicapai steve jobs menjadi begitu logis, karena ia memang sudah bekerja keras untuk itu.
Dan saya samakin tertarik dengan hal-hal seperti ini. Saat ini saya juga suka meluangkan waktu hampir setiap hari, untuk mendengar commencement speech steve jobs di Stanford via mp3 player. Lalu saya cari lebih dalam lagi, dan saya menemukan vide-video lainnya. Bagaimana ya rasanya lulus dari universitas terbaik didunia? Ahh, pasti menyenangkan.
Situs Stanford menjadi pelampiasan saya untuk memenuhi hasrat ini. Btw, apakah kalian tahu sejarah berdirinya stanford? Kalian harus tahu, ada pelajaran berharga disana.

Kisah menarik tentang sejarah stanford
Ini kisah tentang seorang anak, yang begitu mencintai kehidupan kampusnya di harvard. Hanya saja, baru satu tahun disana, ia yang masih berumur sekitar 15 tahun tewas karena kecelakaan.
Orang tuanya tahu bahwa anaknya sangat menyukai Harvard, jadi mereka berencana membuat semacam peringatan di Harvard untuk mengenang anaknya. Mereka berpakaian lusuh, datang ke Harvard bermaksud menemui pimpinan besar Harvard. Semua orang tahu, seorang petinggi Harvard seperti dia pasti tidak ada waktu untuk berurusan dengan pasangan berbaju lusuh, jadi awalnya mereka tidak dipedulikan. Pasangan tadi tetap ingin bertemu pimpinan Harvard, mereka sudah menunggu berjam-jam dan tak mau pergi. Karena kesal, pimpinan Harvard itu pun menemui pasangan tadi.
Sang wanita berkata, “Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini. bolehkah?” tanyanya dengan penuh harap, tapi sang pimpinan Harvard tidak tersentuh.
Nyonya,” katanya dengan kasar, “Kita tidak bisa
mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan.”
“Oh, bukan,” Sang wanita menjelaskan dengan cepat, “Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard.”
Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, “Sebuah gedung?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung? Kalian perlu memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard.”
Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang.
Sang wanita menolehpada suaminya dan berkata pelan, “Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja?” Suaminya mengangguk.
Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan. Mr. dan Mrs Leland Standford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak laki-lakinya.
Universitas tersebut adalah Stanford University , salah satu universitas favorit kelas atas di AS.
Jane dan Leland Stanford, mereka sebenarnya punya semua alasan untuk melawan dunia dan marah pada saat itu, tapi mereka justru melakukan hal lain. Mereka menyalurkan kesedihan mereka dengan mendirikan sekolah yang nantinya menjadi salah satu universitas dunia kelas atas di USA.
Kalau mau bahagia, bahagiakanlah orang lain
Mengingatkan saya pada commencement speech di universitas ini tahun 2008 lalu, oleh Oprah winfrey. Dalam salah satu nasihatnya, ia berpesan,

“To move forward you have to give back. And to me, that is the greatest lesson of life. To be happy, you have to give something back.”

Untuk menjadi bahagia, kamu harus memberikan sesuatu kembali.
Kalau kamu dianiaya, bantu orang lain yang teraniaya. Pasti kamu akan bahagia. Kalau kamu pernah sukses, bantu orang lain untuk juga bisa mencapai sukses. Kalau kamu pernah menjadi master di bidang komputer, bantu orang lain untuk juga bisa mencapai seperti prestasimu. Kalau kamu pernah menjadi pemimpin yang dihormati, bantu orang lain untuk juga bisa menjadi pemimpin yang baik. Kalau kamu bisa berbicara didepan umum dengan sangat mengesankan, bantu orang lain untuk bisa juga melakukannya.
Ini pelajarannya. Dan jangan meremehkan kekuatan dari nilai pelajaran ini.
Lelena stanford kehilangan anaknya. Tapi mereka melakukan sesuatu yang luar biasa. Mereka membangun universitas yang benar-benar kredibel, dan pada akhirnya menjadi salah satu universitas terbaik didunia. Mereka melampiaskan kesedihan mereka dengan membuat banyak kebahagiaan untuk orang lain yang gila menuntut ilmu, seperti anak mereka.
Menarik bukan?
Jadi, sebenarnya..
Ini semua tentang pilihan. Dan setiap pilihan akan punya timbal balik yang berbeda.
Jadi, kalau kamu sedang bersedih dan merasa melakukan kesalahan yang membuat dirimu sendiri begitu terpuruk, kamu bisa memilih. Untuk selanjutnya menjadi bahagia, atau terus meratapi kesedihan itu. Kalau pilihanmu yang pertama, lakukan ini : bantulah orang lain agar tidak terprosok kedalam lubang yang pernah mencelakai kamu. Lakukan apapun, sekecil apapun itu. menceriatakan pengalamanmu, menulis di blog, atau apapun itu, akan sangat bermanfaat dan akan sangat bermakna bagi orang lain.
Kamu pernah dengar Angelina Venui? Dia alumni SMA K 1 Penabur Jakarta, saya dengar, sekarang dia kuliah di Stanford (nolak MIT!). belakangan saya baru tahu, kalau di blognya, dia bikin halaman khusus untuk pembahasan soal-soal olimpiade komputer. Menarik kan? Apalagi bagi orang yang notabene udah pernah juara di IOI, menyelesaikan soal-soal itu mungkin gampang. Tapi orang-orang lain yang baru belajar pasti sangat terbantu dengan blog yang dia buat Itu salah satu contoh konkritnya.
So, kalau kita mau merasa bahagia, bahagiakanlah orang lain.
Berpikirlah lebih luas, lebih besar. Karena makna dari nasihat ini jauh lebih besar dari kedengarannya.
Advertisements

10 thoughts on “Pelajaran Tentang Kebahagiaan dari Sejarah Stanford

  1. hay…makasi ya udah ingetin saya ttg cerita Stanford. boleh saya share di fb saya? . makasi Anas
    *dan salam kenal. saya alumni smansa 04 dan terkejut dgn content tulisan kamu yg runut dan berisi. nice job dude!

  2. @ Hangga : hhe.. lucu juga emang kalau dari ceritanya
    @ a heggy : wah, ada alumni.. silakan a disebarkan, bagus malah.. hhe
    @ yozi : makasih juga buat komentarnya.. 🙂

  3. berdasarkan beberapa website dan lembaga penilai kualitas pendidikan tinggi yg saya lihat, beberapa tahun terakhir ini, posisi satu terus dipegang harvard. jadi mungkin perlu ada sedikit yg direvisi… 🙂

  4. @ t heggy : beda dikit teh, wah nomornya bagus tuh (malah komen ininya), hhe..

    @ dimas : yap, betul! dari banyak kajian emang harvard nomor 1.

    Tapi secara umum Harvard, MIT, Stanford, Princeton.. itu jajaran universitas sarang orang” jenius lah.. Harvard juga nggak selalu unggul disetiap kompetisi kok, beberapa waktu lalu aja ada semacam “cerdas cermat” matematika tingkat universitas gitu.. yang menang MIT, terus juara dua dari princetaon, juara 3 dari stanford, juara 4 dari harvard.. jadi ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s